KOTA BEKASI : Ukhuwah Batak Muslim (UBM) resmi digaungkan sebagai wadah pemersatu enam puak Batak Muslim—Angkola, Mandailing, Karo, Pakpak, Simalungun, dan Toba—dalam sebuah talkshow yang menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan daerah. Hadir dalam kesempatan tersebut Dr. H. Marhaban Sigalingging (akademisi dan pengusaha), KH. Syamsul Arifin Nababan (pendakwah internasional), Andi Situmorang (pendiri Trio Ambisi), dipandu oleh Dr. Sudiman Sihotang dan Bp Sakti Harahap sebgai sekjen UBM.
Dalam pemaparannya, Dr. H. Marhaban Sigalingging menjelaskan bahwa UBM lahir dari keprihatinan atas belum terhimpunnya potensi besar Batak Muslim dalam satu kekuatan kolektif. Ia menegaskan bahwa UBM hadir sebagai “rumah besar” bagi Batak Muslim, tanpa menghilangkan identitas kedaerahan masing-masing puak.
“Tagline kita adalah berbudaya dan bertauhid. Kita menjaga identitas budaya Batak, sekaligus memperkuat nilai tauhid sebagai umat Islam,” ujarnya.
Konsep “rumah besar” dimaknai sebagai holding atau payung bersama bagi berbagai komunitas Batak Muslim yang telah ada sebelumnya. UBM tidak bermaksud menggantikan organisasi yang sudah berjalan, melainkan menjadi pemersatu agar potensi sumber daya manusia Batak Muslim semakin terlihat dan berdampak luas, baik di perantauan maupun di kampung halaman (Bona Pasogit).
KH. Syamsul Arifin Nababan menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif tersebut. Ia menilai UBM sebagai gerakan visioner yang mampu membangun citra positif Batak Muslim di tengah masyarakat. Menurutnya, selama ini identitas Batak kerap diasosiasikan dengan agama tertentu, padahal jumlah Batak Muslim sangat besar dan memiliki potensi luar biasa.
“Kalau kita bersatu, kekuatan kita seperti bangunan kokoh. Ada pengusaha, akademisi, ulama, seniman, lawyer—semua unsur lengkap. Ini potensi besar,” ujarnya.
Andi Situmorang juga menegaskan pentingnya menyatukan enam puak dalam satu wadah. Sebagai seniman, ia mengaku terpanggil untuk berkontribusi dalam dakwah dan penguatan identitas Batak Muslim. Ia berharap UBM mampu membangun kebersamaan lintas budaya puak dengan tetap menjunjung persatuan.
Dalam program jangka pendek, UBM berencana menggelar i’tikaf bersama pada 10 hari terakhir Ramadan serta halal bihalal akbar yang akan melibatkan lebih luas masyarakat Batak Muslim.
Sementara itu, visi jangka panjang yang mengemuka dalam diskusi adalah pendirian lembaga pendidikan, bahkan Universitas Batak Muslim (UBM). Dr. Marhaban menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia menjadi prioritas utama, dengan pendekatan universal namun tetap berlandaskan nilai tauhid.
“Kalau Muhammadiyah bisa membangun universitas hingga ke luar negeri, mengapa Batak Muslim tidak bisa? Yang penting kita bersatu dan ikhlas,” tegasnya.
Talkshow ditutup dengan ajakan agar seluruh Batak Muslim dari enam puak bersatu dalam semangat ukhuwah, membangun kekuatan bersama demi kemajuan umat dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Dengan semangat berbudaya dan bertauhid, UBM diharapkan menjadi tonggak baru kebangkitan Batak Muslim di Indonesia.(Linov)
